Membangun Masjid Digital dan Melawan Futur di Tengah Kesibukan
Oleh: Abu Hazwan [Islam Kedamaian]
Pada artikel sebelumnya, saya pernah bercerita bahwa sekitar tahun 2015, saya mengawali langkah sebagai tenaga kebersihan di suatu lembaga. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah saya mendapatkan apresiasi dari pimpinan saat itu, sehingga saya dipercaya beralih tugas menjadi tenaga administrasi. Ternyata, perjalanan karier saya tidak berhenti sampai di situ. Dinamika pekerjaan, pergantian pimpinan, serta perubahan birokrasi memberikan saya tanggung jawab baru, di mana saya mulai dipercaya untuk menangani job-job yang memiliki risiko atau ketersinggungan besar dengan lembaga lain.
Namun, inti dari cerita ini sebenarnya bukanlah tentang pencapaian karier saya, melainkan tentang ikhtiar membangun "masjid digital" melalui website Islam Kedamaian ini.
Kita semua tahu bahwa salah satu amal jariyah yang pahalanya tidak akan pernah terputus adalah membangun masjid, karena bangunan tersebut akan selalu digunakan untuk beribadah. Saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang berlebih secara finansial. Rezeki yang saya miliki alhamdulillah cukup untuk kehidupan sehari-hari. Ibaratnya, jika biaya makan sehari adalah Rp20.000, saya masih bisa bertahan selama 30 hari. Namun, jika pengeluaran mengharuskan lebih dari itu, wallahualam, Allah yang Maha Mengatur perihal rezeki hamba-Nya. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia menyempitkan bagian baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ankabut: 62).
Keterbatasan finansial itulah yang memotivasi saya untuk membangun masjid melalui jalan lain, yakni media digital. Sebagaimana janji Allah yang tertuang dalam hadis sahih tentang keutamaan membangun masjid:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
"Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya semisal itu di surga." (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).
Harapan terbesar saya, semoga usaha kecil melalui website ini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan janji tersebut.
Lembaran Baru Website Islam Kedamaian
Sebenarnya, website ini bukanlah platform yang baru. Saya sudah mulai membangunnya sejak lama, sekitar tahun 2014. Namun pada saat itu, fokus utamanya belumlah tentang dakwah, melainkan lebih banyak membahas urusan duniawi. Titik baliknya terjadi menjelang akhir tahun 2025, tepatnya sekitar bulan Agustus. Saat itu, saya merasakan sebuah dilema. Di era digital ini, segala informasi memang sangat mudah diakses, namun kemudahan tersebut tidak selalu menjamin kebenaran, terutama jika menyangkut perkara agama.
Sebelum memutuskan kembali menghidupkan website ini, saya sempat mencoba peruntungan berdakwah melalui potongan-potongan video pendek berformat vertikal 9:16 di media sosial. Sayangnya, saya merasa langkah tersebut kurang efektif dan kurang mengena. Penontonnya jarang menyentuh angka 1.000. Selain itu, saya menyadari bahwa platform media sosial memiliki risiko; perusahaannya bisa saja sewaktu-waktu tutup atau bangkrut, yang berakibat hilangnya seluruh jejak digital kebaikan kita.
Berangkat dari pemikiran tersebut, saya memutuskan untuk memanfaatkan kembali website lama ini daripada dibiarkan nganggur. Saya mengubah nama website, lalu menghapus bersih semua artikel lamanya. Website ini kembali dari nol dengan lembaran baru.
Kewajiban Mencatat dan Menyebarkan Ilmu
Sejak saat itu, saya mulai memikirkan bagaimana cara menulis artikel yang bermanfaat. Dari apa yang saya pelajari, ada ilmu-ilmu agama yang alhamdulillah sudah saya amalkan, namun belum saya sebarluaskan. Timbul kekhawatiran di dalam hati saya. Saya teringat bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah no. 224, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Kewajiban menuntut ilmu itu sudah mulai saya jalankan, namun kewajiban untuk menyampaikan atau menyebarkannya masih belum. Saya takut jika kelak di akhirat, saya dihisab karena menahan ilmu yang saya miliki. Niat saya bukanlah untuk menyombongkan diri merasa banyak ilmu, melainkan bentuk kehati-hatian atas peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
"Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekangan dari api neraka." (HR. Abu Daud no. 3658 dan Tirmidzi no. 2649, dinilai hasan sahih).
Besarnya tanggung jawab tersebut membuat saya tersadar, dan menyebarkan ilmu melalui tulisan di website ini juga menjadi bentuk pengamalan dari anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencatat ilmu. Beliau bersabda:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
"Ikatlah ilmu dengan tulisan." (HR. Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2026).
Bagi saya, salah satu wujud nyata dari implementasi mencatat ilmu di era modern ini adalah melalui artikel-artikel di website ini. Jejak tulisan digital ini diharapkan menjadi "ikatan" ilmu yang tidak mudah hilang dan bisa dibaca terus-menerus oleh siapa saja yang mencarinya.
Ujian Kesibukan dan Jeratan Futur
Di tahun 2025, rutinitas pekerjaan utama saya belumlah sepadat sekarang. Namun, memasuki tahun 2026, ritme pekerjaan justru terasa semakin padat, amburadul, dan menyita energi. Dampaknya, ikhtiar membangun "masjid digital" melalui tulisan ini sempat terbengkalai.
Kepadatan pekerjaan ini—termasuk pengerjaan video vertikal 9:16 yang membutuhkan fokus tinggi—ternyata berdampak besar pada pola hidup, terutama pola tidur saya yang menjadi tidak terkontrol. Dulu, saya masih bisa menjaga rutinitas bangun jam 03.30 pagi. Dengan waktu Subuh yang masuk sekitar jam 04.00, saya masih memiliki jeda yang cukup untuk melaksanakan salat malam dan mengaji.
Namun, sejak pekerjaan semakin padat, saya mulai mengalami fase futur (penurunan keimanan/semangat ibadah). Saya jadi sering terlambat bangun pagi dan kehilangan momen di sepertiga malam. Awalnya saya mewajarkan hal ini karena lelah fisik. Tapi hati kecil saya menyadari kemungkinan lain yang lebih besar: futur ini juga disebabkan oleh kelalaian dan maksiat.
Karena lelah bekerja, pelarian saya saat pulang ke rumah sering kali tertuju pada hiburan di media sosial. Scrolling tanpa kendali dan sekadar menonton berita yang lewat. Tanpa sadar, media sosial inilah yang akhirnya menjadi fitnah. Saya menjadi abai dan kehilangan sensitivitas untuk membedakan apakah tontonan ini bernilai maksiat atau tidak. Tontonan tidak terkontrol inilah yang perlahan menggerogoti waktu dan menjauhkan saya dari rutinitas ibadah.
Obat Futur: Kembali ke Majelis Ilmu
Kesadaran akan semua kelalaian itu akhirnya perlahan muncul ketika saya berkesempatan melangkahkan kaki kembali ke majelis ilmu atau kajian sunah di salah satu masjid. Dalam kajian tersebut, ustaz mengingatkan bahwa iman itu bertambah dan terjaga salah satunya dengan rutin menghadiri majelis ilmu.
Di titik itulah saya sadar, "Oh, ternyata begini."
Terjawab sudah akar dari futur yang saya alami. Kombinasi lelahnya pekerjaan dan jeratan fitnah tontonan media sosial bermuara pada satu kesalahan: saya lupa dan abai untuk duduk di majelis ilmu. Padahal, ada begitu banyak ketenangan dan faedah dari majelis ilmu, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya." (HR. Muslim no. 2699).
Dari majelis ilmu itulah, semangat saya untuk melawan futur dan kembali menghidupkan "masjid digital" ini perlahan menyala.
Sebagai penutup artikel ini, saya melangitkan sebuah doa yang tulus. Semoga website ini benar-benar bisa menjadi ladang pahala, menyalurkan hadis-hadis sahih dan ilmu ringan yang memberikan pencerahan, serta menjadi jalan hidayah. Ya Allah, jadikanlah website ini sebagai salah satu jalan amal jariyah yang pahalanya senantiasa mengalir, bukan hanya untuk diri saya pribadi, melainkan juga untuk beliau yang telah memberikan amanah sebuah laptop agar saya bisa mengelola website ini, serta bagi beliau yang telah memfasilitasi gawai (smartphone) sehingga saya bisa mengurus dakwah digital ini dengan lebih maksimal. Semoga setiap kebaikan yang tersebar dari sini, menjadi pemberat timbangan amal saleh bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamiin.

Diskusi & Komentar