Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Fenomena Ukhuwah: Paham Agama Namun Lupa Adab Sesama Muslim

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan September 30, 2026


Realita Ukhuwah di Era Modern: Ke Mana Perginya Salam dan Senyuman di Antara Kita?

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]

Jika kita mengamati kehidupan sosial masyarakat modern saat ini, ada pergeseran nilai yang cukup memprihatinkan. Sikap individualis menebal, sementara kehangatan bersosial semakin menipis. Di tengah masyarakat awam, fenomena saling "cuek" saat berpapasan di jalan atau di fasilitas umum sudah menjadi pemandangan biasa.

Kondisi ini mungkin masih bisa dimaklumi akar masalahnya. Minimnya literasi agama membuat banyak orang tidak mengetahui bahwa sekadar bertegur sapa memiliki kedudukan agung dalam syariat. Namun, yang menjadi pukulan telak adalah ketika krisis keramahan ini justru menjangkiti lingkungan orang-orang yang sudah mengaji.

Ironi di "Lingkungan Sunnah"

Renungan ini bermula dari rutinitas sederhana: mengantarkan anak ke sebuah sekolah dasar. Secara sistem, sekolah ini sangat menjaga kemurnian syariat dan jauh dari praktik-praktik bid'ah. Lingkungan ini diisi oleh para wali murid yang notabene sudah mengenal dakwah tauhid dan bermanhaj salaf. Di sinilah letak kegelisahan itu muncul.

Ketika berpapasan dengan sesama wali murid, suasana sering kali terasa kaku. Jangankan saling mengucap salam, sekadar melempar senyum pun seakan menjadi barang yang sangat langka. Terkadang, sapaan hanya berlaku bagi mereka yang sudah saling kenal dekat atau berada dalam satu circle kajian tertentu.

Bukankah pemahaman agama yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah seharusnya berbuah pada kelembutan akhlak?

Menggali Kembali Fondasi Ukhuwah Islamiyah

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan fondasi yang sangat kokoh tentang hubungan antar-muslim dalam Al-Qur'an:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan ini dipraktikkan secara nyata oleh Rasulullah ﷺ. Ketika pertama kali hijrah ke Madinah, langkah revolusioner yang beliau lakukan adalah Mu'akhah—mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Sejarah mencatat dahsyatnya persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad bin Ar-Rabi'. Sa'ad dengan ikhlas menawarkan separuh harta hingga salah satu istrinya untuk dinikahi kepada Abdurrahman, meski Abdurrahman menolaknya dengan penuh kehormatan. Praktik ini lahir dari pemahaman utuh terhadap sabda Nabi ﷺ:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti...”

(HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Jika para pendahulu kita mewujudkan persaudaraan dengan berbagi harta dan nyawa, mengapa kita hari ini merasa begitu berat untuk sekadar berbagi keramahan?

Penyakit Eksklusivitas dan "Salam Pilih Kasih"

Mengucapkan salam bukanlah sekadar pendorong keramahan, melainkan hak mutlak seorang muslim yang wajib ditunaikan oleh saudara seimannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ...

“Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya...”

(HR. Muslim no. 2162)

Namun, salah satu penyakit sosial yang sering ditemui di kalangan penuntut ilmu adalah "salam pilih kasih". Seseorang hanya mau mengucapkan salam kepada ustaznya, teman ngajinya, atau orang yang pakaiannya terlihat memiliki "frekuensi" yang sama. Padahal, saat Nabi ﷺ ditanya tentang ajaran Islam yang paling baik, beliau menjawab:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Engkau memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.”

(HR. Bukhari no. 12 dan Muslim no. 39)

Bahkan, Rasulullah ﷺ mengaitkan amalan menyebarkan salam ini sebagai kunci penumbuh rasa cinta antar-sesama muslim yang menjadi syarat kesempurnaan iman:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ تَحَابُّوا

“Sebarkanlah salam di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”

(HR. Muslim no. 54)

Agar kebiasaan baik dan kehangatan ukhuwah ini senantiasa terjaga dalam keseharian kita, mari lengkapi amalan harian dengan E-book Zikir Pagi dan Petang. Panduan digital ini membantu menjaga hati agar tetap lembut dan istiqomah menjalankan sunnah-sunnah Nabi ﷺ.

Wajah Berseri: Meneladani Sang Nabi ﷺ

Jika lisan terasa kelu, syariat memberikan batas minimal empati sosial: Tersenyum. Terkadang, saking fokusnya seseorang menjaga wibawa atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat, wajahnya berubah menjadi kaku dan masam. Padahal, manusia yang paling bertakwa dan paling sibuk urusannya—yakni Rasulullah ﷺ—adalah manusia yang paling murah senyumnya.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumnya dibandingkan Rasulullah ﷺ.”

(HR. Tirmidzi no. 3641)

Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa senyuman adalah sedekah termudah, serta melarang kita meremehkan kebaikan sekecil apa pun dalam berinteraksi:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.”

(HR. Tirmidzi no. 1956)

Adab Sebelum Ilmu: Menjaga Wajah Dakwah

Sikap kaku dan dingin di tengah masyarakat awam maupun sesama penuntut ilmu membawa dampak destruktif: menjadi fitnah bagi dakwah. Ketika orang yang rajin ke majelis ilmu menampilkan wajah yang angkuh dan enggan menyapa, orang awam akan berpikir, "Apakah mengaji membuat seseorang menjadi kaku dan memutus tali silaturahmi?" Dakwah yang semestinya merangkul, justru memukul mundur hati manusia.

Para ulama salaf sangat menyadari hal ini. Ibnul Mubarak pernah berkata, "Kami lebih membutuhkan adab yang sedikit, dibandingkan ilmu yang banyak."

Klaim mengikuti jejak generasi salaf belumlah sempurna jika hanya tecermin pada penampilan fisik atau semangat mengoreksi kesalahan orang lain, namun abai terhadap adab sosial yang paling dasar. Hakikat manhaj yang lurus haruslah melahirkan akhlak yang luwes.

Saat kembali beraktivitas, mengantarkan anak sekolah, atau duduk di majelis ilmu, hancurkanlah tembok keangkuhan itu. Jadilah yang pertama menebar salam. Berikanlah wajah yang paling berseri kepada saudara seiman. Karena sejatinya, ilmu yang berkah adalah ilmu yang melembutkan hati pemiliknya.

Wallahua'lam.

Catatan:
Tulisan ini merupakan buah perenungan pribadi mengenai adab dan kehangatan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar