Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Di Balik Secangkir Kopi, Sesajen Gunung, dan Kaligrafi : Luasnya Bahaya Syirik di Sekitar Kita

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan September 18, 2026


Di Balik Secangkir Kopi, Sesajen Gunung, dan Kaligrafi: Luasnya Bahaya Syirik di Sekitar Kita

Oleh: Abu Hazwan [Islam Kedamaian]

Suatu siang pas lagi jam istirahat kerja (isoma), saya lagi asyik makan siang di pantry sambil dengerin kajian tanya jawab agama di YouTube dari salah seorang ustaz Ahlussunnah hafizahullah ta'ala. Kebetulan, pembahasan saat itu lagi nyinggung soal kesyirikan seputar sesajen.

Tiba-tiba, teman kerja saya yang perempuan di sebelah ketawa pas denger penjelasan itu. Dia jadi teringat sama almarhumah neneknya yang ternyata dulu juga punya kebiasaan kayak gitu. Neneknya ini sering banget bikin secangkir kopi panas yang diniatkan sebagai sesajen buat suaminya (Mbah Kakungnya teman saya) yang sudah meninggal.

Nah, lucunya, kopi yang disajikan itu sering banget berkurang. Sang nenek dengan yakinnya nyeletuk (dalam bahasa Jawa), "Loh, kopi ini kurang, berarti wis ditrimo (sudah diterima)." Seakan-akan sesajen itu beneran dinikmati sama roh si kakek. Padahal usut punya usut, kopi itu berkurang karena diminum diam-diam sama anak laki-lakinya si nenek yang iseng!

Kejadian kayak gini nyatanya nggak cuma ada di keluarga teman saya. Di keluarga saya sendiri—dan mungkin mayoritas masyarakat kita, khususnya di Jawa—hal kayak gini sudah jadi pemandangan biasa. Banyak orang tua zaman dulu yang percaya kalau kopi panas itu airnya menyusut, berarti "diterima". Padahal kalau dipikir pakai logika sederhana, air panas yang dibiarkan terbuka ya pasti menguap dan volumenya berkurang. Sesederhana itu. Tapi karena kejahilan (ketidaktahuan akan ilmu agama), fenomena alam biasa dimaknai secara mistis.

Bencana Alam dan Susahnya Mendakwahkan Tauhid

Fenomena nguri-nguri (melestarikan) tradisi yang berbau syirik ini ternyata nggak cuma sebatas di ruang makan keluarga, tapi skalanya luas banget di masyarakat.

Beberapa waktu lalu, waktu ada gunung meletus di daerah saya, di bekas-bekas erupsinya itu ternyata masih aja ada yang naruh sesajen. Melihat hal yang menyimpang ini, teman-teman yang sudah kenal dakwah sunnah dan paham Islam murni merasa punya tanggung jawab buat meluruskan. Dibuatlah sebuah video yang isinya ngingetin kalau ngasih sesajen ke penunggu gunung atau alam itu salah dan termasuk syirik. Video itu akhirnya viral.

Tapi sedihnya, untuk masyarakat awam, khususnya yang tinggal di daerah pelosok dan kurang pemahaman agamanya, video itu malah dianggap menjelek-jelekkan tradisi mereka. Ini jadi bukti nyata kalau PR (Pekerjaan Rumah) dakwah tauhid kita masih banyak banget. Masyarakat sering kali mencampuradukkan agama dan tradisi warisan turun-temurun tanpa tahu esensi sebenarnya.

Kesyirikan yang Terselubung dan Penyimpangan Ibadah

Praktik syirik di masyarakat kita itu sangat luas dan kompleks. Nggak melulu soal bakar kemenyan atau ngasih sesajen di pohon besar. Terkadang, syirik itu menyusup lewat hal-hal yang seolah-olah terlihat "Islami".

Pernah dalam sebuah kajian ilmiah di masjid, seorang ustaz hafizahullah ta'ala menjelaskan sesuatu yang bikin banyak orang kaget: menempel atau memajang lafaz kaligrafi "Allah" sejajar dengan "Muhammad" itu bermasalah secara akidah. Menyejajarkan kedua nama tersebut bisa menjatuhkan seseorang pada kesyirikan karena seolah-olah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai tandingan Allah. Padahal, Allah tidak memiliki sekutu maupun tandingan. Lagipula, sekadar memajang lafaz Allah di dinding itu nggak ada tuntunannya dan nggak ngasih manfaat atau penjagaan apa-apa buat pemilik rumah.

Lebih jauh lagi, ustaz tersebut menjelaskan kalau praktik-praktik seperti ini sering kali berakar dari kebiasaan orang-orang Sufi. Kalau kita perhatikan, dalam pemahaman tasawuf (Sufi) yang kebablasan, apalagi yang sudah mengklaim sampai di tingkat "makrifat", penyimpangannya parah banget. Ada yang beranggapan kalau sudah makrifat, salat itu cukup dibatin aja, nggak perlu gerakan.

Termasuk soal zikir. Banyak yang berzikir cuma nyebut "Allah, Allah, Allah" (zikir mufrod/tunggal) ribuan kali. Padahal yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu zikir dalam bentuk kalimat yang utuh dan memuji Allah, seperti ada tambahannya: Subhanallah, Alhamdulillah, atau Allahu Akbar. Kalau asal-asalan beragama tanpa ilmu, niatnya ibadah malah jatuhnya bid'ah atau bahkan kesyirikan.

Ancaman Ngeri Kalau Syirik Dibawa Mati

Berbagai fenomena di atas—dari kopi sesajen, sesajen gunung, sampai penyimpangan ibadah—menunjukkan betapa ngerinya kalau kita beragama tanpa ilmu. Kalau kesyirikan ini dibiarkan dan pelakunya meninggal sebelum bertaubat, ancamannya nggak main-main.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan bahwa syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni jika pelakunya mati di atasnya:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48).

1. Syirik Jaminan Neraka

Dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati (bertemu Allah) dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim no. 93).

2. Bahaya Meminta dan Berdoa kepada Selain Allah

Orang yang ngasih sesajen biasanya sambil ngomong dan minta kebaikan sama arwah leluhur atau penunggu tempat. Ini jelas fatal. Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyeru (berdoa/beribadah kepada) sekutu (tandingan) selain Allah, maka ia masuk neraka.” (HR. Bukhari no. 4497).

3. Syirik Menghanguskan Semua Amal Ibadah

Nggak peduli seberapa rajin orang salat dan sedekah, kalau dia berbuat syirik akbar, amalnya habis tak bersisa. Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: 'Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar: 65).

Yuk, Dakwahkan Tauhid ke Orang Terdekat!

Melihat kondisi ini, kita yang kebetulan sudah Allah kasih hidayah paham sunnah dan tauhid punya kewajiban besar. Membiarkan saudara-saudara kita, tetangga kita, atau keluarga kita tenggelam dalam kejahilan itu bukanlah wujud toleransi, tapi pembiaran yang berujung ke neraka.

Mari pelan-pelan kita dakwahkan tauhid dengan hikmah, kesabaran, dan bahasa yang membumi biar gampang diterima. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga tauhid kita, memberikan hidayah buat masyarakat luas, dan mewafatkan kita semua dalam keadaan bertauhid, jauh dari segala macam bentuk kesyirikan. Amin.

Itulah realitas dan bahaya syirik yang masih banyak terjadi di sekitar kita. Teruslah belajar, berhati-hati, dan menjaga akidah kita agar tidak terjatuh dalam pembatal keimanan tanpa disadari. Wallahu a'lam.

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar