
Hati yang Tertambat pada Shalat: Hikmah Menakjubkan di Balik Musibah Kecelakaan
Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]
Sebelum menuliskan kisah ini, saya teringat pada sebuah potongan ceramah dari salah satu asatidz yang pernah saya bagikan. Beliau menyampaikan tentang salah satu ciri orang yang benar-benar beriman, yaitu seseorang yang hatinya senantiasa bergantung dan tertambat di masjid (rumah Allah).
Bagi orang seperti ini, meskipun secara fisik raganya sedang sibuk di pasar, di jalan, atau di tempat kerja, namun ketika sayup-sayup terdengar panggilan azan, hatinya bergetar dan dengan sigap mendatangi rumah Allah.
Teori tentang kuatnya iman dan hati yang tertambat pada ibadah itu seolah menemukan wujud nyatanya di depan mata saya sendiri melalui sebuah kejadian yang menakjubkan.
Kisah ini adalah kisah nyata yang dialami oleh seorang pemuda berusia 23 tahun. Suatu ketika, takdir Allah menimpanya dalam wujud kecelakaan yang cukup parah saat ia sedang mengendarai sepeda balap. Wajahnya mengalami luka-luka yang serius, bahkan bibirnya pun sampai harus dijahit akibat benturan yang keras.
Setelah mendapatkan perawatan yang memadai di layanan kesehatan, ia diantar pulang oleh saudaranya menggunakan sepeda motor sambil menuntun sepeda balapnya yang rusak.
Namun, di sepanjang perjalanan pulang itulah sebuah momen luar biasa terjadi. Dalam kondisi menahan rasa sakit yang luar biasa dan wajah yang dipenuhi luka jahitan, pemuda yang belum menikah ini sama sekali tidak meratap. Ia tidak bertanya, "Separah apa luka di mukaku ini?" atau "Apakah wajahku akan cacat?" Pertanyaan yang keluar dari lisan pemuda itu justru menggetarkan hati dan menunjukkan betapa kuat akar keimanan yang tertanam di dalam hatinya. Kepada saudaranya, ia bertanya dalam bahasa Jawa:
"Aku opo iso wudhu yo?" (Apakah aku nanti bisa berwudhu?)
"Aku opo iso adus yo?" (Apakah aku nanti bisa mandi?)
Subhanallah. Saya sangat terkesan dan takjub mendengar pertanyaan tersebut. Allah Ta'ala seakan ingin menunjukkan contoh nyata tentang seseorang yang memiliki keimanan yang kokoh, khususnya iman kepada takdir. Pemuda ini telah ridha dengan musibah yang menimpanya, sehingga fokusnya bukan lagi pada rasa sakit duniawi, melainkan pada kewajibannya sebagai seorang hamba.
Dari dua pertanyaan sederhana itu, tergambar sebuah ketakutan yang luar biasa: ketakutan apabila ia tidak bisa melaksanakan ibadah wajib, khususnya ibadah shalat. Ia sangat menyadari bahwa shalat bukanlah ibadah yang bisa digugurkan hanya karena alasan sakit, sekaligus menyadari betapa gentingnya urusan shalat kelak di akhirat.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ tentang kedudukan shalat sebagai amal yang pertama kali akan dimintai pertanggungjawaban:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، قَالَ حَدَّثَنِي قَتَادَةُ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ حُرَيْثِ بْنِ قَبِيصَةَ، قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا . قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ " إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ . وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَقَدْ رَوَى بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَسَنِ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ حُرَيْثٍ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ وَالْمَشْهُورُ هُوَ قَبِيصَةُ بْنِ حُرَيْثٍ . وَرُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم نَحْوُ هَذَا
Huraith bin Qabisah berkata: "Saya tiba di Madinah dan berkata: 'Ya Allah! Permudahkanlah saya untuk berada dalam pertemuan yang baik.'" Dia berkata: "Saya duduk dengan Abu Hurairah dan berkata: 'Sesungguhnya saya telah meminta kepada Allah untuk memberikan saya teman yang baik. Maka ceritakanlah kepada saya sebuah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah (ﷺ) agar mungkin Allah memberi manfaat kepada saya melalui itu.' Dia berkata: 'Saya mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali dihisab bagi seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia beruntung dan berhasil, tetapi jika shalatnya rusak, maka dia telah gagal dan merugi. Jika ada yang kurang dari kewajiban shalatnya, maka Tuhan Yang Maha Agung berkata: 'Lihatlah! Apakah ada shalat sunnah untuk hamba-Ku?' Maka dengan shalat sunnah itu, akan dilengkapi apa yang kurang dari kewajiban shalatnya. Kemudian seluruh amalnya akan diperlakukan seperti itu."
(HR. Tirmidzi No. 413, dishahihkan oleh Al-Albani)
Selain perkara shalat, pemuda ini juga menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap kebersihan jiwa dan raga untuk menghadap Rabb-nya (melalui wudhu dan mandi wajib/janabah). Ia tidak ingin menghadap Allah dalam keadaan yang tidak suci. Hal ini sejalan dengan prinsip utama dalam Islam di mana bersuci adalah sebagian dari iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلاَلٍ، حَدَّثَنَا أَبَانٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلاَّمٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَرِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ . وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ - أَوْ تَمْلأُ - مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
Abu Malik at-Ash'ari melaporkan: Rasulullah (ﷺ) bersabda: Kebersihan adalah separuh dari iman dan al-Hamdu Lillah (segala puji dan syukur hanya milik Allah) memenuhi timbangan, dan Subhan Allah (Maha Suci Allah) dan al-Hamdu Lillah memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya, dan sedekah adalah bukti (iman seseorang) dan kesabaran adalah cahaya dan Al-Qur'an adalah bukti di pihakmu atau melawanmu. Semua manusia pergi di pagi hari dan menjual diri mereka, sehingga membebaskan diri mereka atau menghancurkan diri mereka.
(HR. Muslim No. 223)
Dari kejadian ini, saya melihat langsung betapa kuatnya iman seseorang ketika ia sudah benar-benar yakin kepada Allah. Semoga Allah Ta'ala selalu memberkahi dan menjaga hidup pemuda ini dengan hidayah taufik hingga akhir hayat, sehingga ia senantiasa berpegang teguh dalam beragama sesuai Al-Qur'an dan Sunnah, bahkan dalam kondisi paling kritis sekalipun.
Sampai artikel ini terbit, pemuda tersebut belum mengetahui tentang tulisan ini, dan saya memang sengaja tidak memberitahunya agar keikhlasannya tetap terjaga. Harapan saya, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat, teguran, serta motivasi bagi kita dan kaum muslimin lainnya yang mungkin sering melalaikan wudhu dan shalat di saat tubuh masih diberi kesehatan yang paripurna. Semoga, setiap hikmah yang diambil oleh para pembaca menjadi aliran pahala amal jariyah bagi pemuda tersebut, tanpa ia harus mengetahuinya.
Sebagai penutup dan pengingat kebaikan, sosok pemuda tangguh ini adalah akhi Rohmad Hidayah, dan saudara yang mengantarnya pulang tidak mau disebut namanya. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka berdua di atas hidayah dan kebaikan.
Wallahua'lam.
Diskusi & Komentar