Hidayah dari Sebuah Realita: Menemukan Kemurnian Islam di Tengah Tradisi Masyarakat

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]
Curhatan pada gambar di atas mengingatkan saya pada waktu pertama kali mendapat hidayah taufik dari Allah Ta'ala. Kisah ini bermula antara tahun 2016-2018, saat pengamatan saya terhadap masyarakat masih sangat intens. Dulu, saya sering aktif menghadiri kegiatan atau ritual yang bisa dikatakan tidak berdasar—yang hanya sebatas adat atau 'urf—tetapi jika ditelisik lebih dalam, memang tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ.
Suatu ketika, kakek saya sering berpesan, "Wong urip iku kudu duwe sangu tuwek, ninggalno sing ditinggal ben ndak bingung"—kira-kira seperti itulah. Menurut saya, maknanya sangat luas, karena ini berbicara tentang masa tua dan kepastian bahwa kita akan berpulang. Lalu, keluarga yang ditinggalkan ini juga perlu disiapkan segala sesuatunya, termasuk biaya untuk hal-hal demikian (seperti tahlilan). "Kaop ndak duwe duwik saiki iku" (Repot kalau tidak punya uang sekarang ini).
Saya pernah mendengar cerita teman SMA yang di lingkungannya banyak non-muslim (Hindu), bahwa jika tidak memiliki uang, maka mereka tidak bisa menggelar upacara ngaben. Seiring berjalannya waktu, saya membuka media sosial (YouTube) saat hal tersebut sedang viral. Dalam salah satu video itu, ada suara—entah dari orang asli di sana atau orang yang sedang mengambil video—menginformasikan bahwa jika tidak memiliki uang minimal 50 juta, maka kegiatan itu tidak bisa diadakan karena banyak hal yang harus disiapkan secara materi.
Dari video dan informasi teman ini, saya mulai berpikir dan timbul sebuah pertanyaan: lalu apa bedanya Islam dengan agama selain Islam jika keadaannya seperti ini? Bukankah Islam ini agama yang mudah, murah, dan fleksibel?
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ "
"Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda: "Agama itu mudah, dan tidak ada seorang pun yang memberatkan dirinya dalam agama ini kecuali ia akan kalah. Maka, hendaklah kalian tidak berlebihan, tetapi berusahalah untuk mendekati kesempurnaan dan terimalah kabar gembira bahwa kalian akan diberi pahala; dan perkuatlah diri kalian dengan beribadah di pagi hari, sore hari, dan pada saat-saat terakhir malam."
(HR. Bukhari No. 39)
Di hadits lain, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ juga berpesan:
عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ " يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا "
"Dari Anas bin Malik: Nabi ﷺ bersabda, "Permudahlah dan jangan menyulitkan, dan berikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari (dari Islam)."
(HR. Bukhari No. 69 dan Muslim No. 1734)
Di sekitar rumah saya saja, untuk mengadakan selamatan tahlilan selama 7 hari, minimal membutuhkan biaya lebih dari 10 juta.
Saya pernah mendengar dalam sebuah cuplikan video, Ustadz Firanda Andirja hafizhahullah menyampaikan bahwa tahlilan ini pada asalnya merupakan adat agama Hindu. Beliau tidak serta-merta mengatakan hal itu dari dirinya sendiri, melainkan itu adalah pengakuan langsung dari penganut Hindu yang disampaikan kepada teman Ustadz Firanda. Mereka mengatakan bahwa mereka bangga karena adat peninggalan mereka masih dilestarikan oleh orang Islam.
Jika memang demikian adanya, maka hal ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh kakek saya. Beliau menceritakan bahwa tahlilan memang pada dasarnya bukan adat ajaran Islam. Dahulu, masyarakat Hindu memiliki adat kebiasaan jika ada orang yang meninggal, mereka berkabung atas mayit tersebut sambil minum-minuman keras, mabuk-mabukan, main domino, adu ayam, dan lain-lain.
Untuk merubahnya menjadi hal yang terlihat lebih positif dan baik versi manusia (bukan sesuai tuntunan Al-Qur'an dan hadits), maka diubahlah kegiatan tersebut menjadi acara mengaji, membaca tahlil, dan sebagainya. Tetapi, jika tolok ukur kebaikan itu hanya bersandar pada penilaian akal manusia, maka standarnya tidak akan pernah ketemu.
Maka dari itu, Allah memberikan petunjuk bahwa agama Islam ini sudah sempurna, sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Sebagaimana firman Allah Ta'ala di dalam surah Al-Ma'idah ayat 3:
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًا
"...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..."
(QS. Al-Ma'idah: 3)
Oleh karena itu, ada hadits yang dengan tegas mengingatkan bahwa jika kita melakukan ibadah yang tidak ada petunjuk atau contohnya dari Nabi ﷺ, maka amalan tersebut akan tertolak. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم " مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ "
"‘Aisyah melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak ada dasarnya, maka itu ditolak."
(HR. Muslim No. 1718)
Sepertinya fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan saya saja, tetapi mungkin banyak juga saudara-saudara kita di luar sana yang mengalami realita yang sama.
Wallahua'lam.
Catatan Referensi / Sumber Hadits:
- Hadits Agama itu Mudah: HR. Bukhari No. 39
- Hadits Permudah Jangan Dipersulit: HR. Bukhari No. 69 / HR. Muslim No. 1734
- Ayat Kesempurnaan Agama: QS. Al-Ma'idah Ayat 3
- Hadits Amalan Tanpa Tuntunan Tertolak: HR. Muslim No. 1718
Diskusi & Komentar