Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Beratnya Langkah ke Majelis Ilmu: Bukti Mahalnya Hidayah Taufik

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan Juli 22, 2026

Beratnya Langkah Menuju Majelis Ilmu: Bukti Mahalnya Hidayah Taufik

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]

Dulu, ketika baru pertama kali mengenal Manhaj Salaf, saya lebih sering menyimak kajian melalui YouTube karena minimnya informasi dan terbatasnya sirkel atau teman yang sefrekuensi. Seiring berjalannya waktu, sering kali terbersit rasa "iri" (dalam artian positif) kepada ikhwan-ikhwan yang tempat tinggalnya berdekatan dengan pusat kajian atau pondok pesantren.

Apalagi jika ada suatu daerah atau kabupaten yang rutin didatangi oleh asatidz kibar, seperti Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Ustadz Ali Musri, dan asatidz lainnya untuk mengisi Tabligh Akbar. Rasanya iri sekali, ada keinginan kuat dan angan-angan untuk bisa hadir langsung duduk bermajelis bersama mereka.

Namun, waktu pun berlalu dan keadaan mulai berubah. Alhamdulillah, saat ini di daerah sekitar tempat tinggal saya sudah mulai banyak bermunculan tempat-tempat kajian yang bermanhaj salaf. Salah satu contohnya, ada seorang ustadz yang memimpin sebuah lembaga pendidikan sunnah di dekat sini. Walaupun masih merintis, qadarullah sekarang Tabligh Akbar dan jadwal kajian beliau justru lebih banyak diminati hingga ke luar kota. Sebenarnya, saya juga pernah hadir bermajelis di tempat beliau secara langsung (offline), namun sayangnya belum bisa merutinkannya.

Lucunya (atau lebih tepatnya, ironisnya), ketika akses kajian itu sudah ada di depan mata—jaraknya dari rumah kira-kira hanya sekitar 7 kilometer—rasanya untuk melangkahkan kaki ke sana secara rutin masih sangat berat.

Dari sinilah saya merasa tertampar akan satu pelajaran penting: bahwa hidayah itu bertingkat. Hidayah berupa ilmu dan pengetahuan (Hidayah Irsyad) itu satu hal, namun Hidayah Taufik—khususnya kemampuan dan kemauan untuk mengamalkan ilmu agama sesuai Al-Qur'an dan Sunnah di atas pemahaman manhaj salaf dalam praktik sehari-hari—adalah hal yang sangat mahal. Allah 'Azza wa Jalla tidak memberikan Hidayah Taufik ini kepada sembarang orang.

Mengikat Ilmu dengan Tulisan

Secara amaliah harian, alhamdulillah, ilmu yang didapat sedikit demi sedikit sudah dipraktikkan. Bahkan, sebagai wasilah (sarana) untuk menyebarkan kebaikan, saya sempat aktif membagikan faedah ilmu melalui video-video pendek di media sosial. Saat ini, aktivitas berbagi video pendek itu memang sedang vakum. Sebagai gantinya, saya kini fokus membangun dan mengurus sebuah website atau blog untuk menuliskan ilmu yang selama ini diterima agar tidak hilang begitu saja.

Langkah menuliskan ilmu ini memiliki landasan kuat dalam syariat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda untuk mengikat ilmu melalui tulisan agar manfaatnya tetap terjaga:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

(Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih) 

Namun ternyata, meski sudah mengenal manhaj salaf, berusaha mengamalkan ilmunya, dan ikut mengikatnya lewat tulisan di blog, belum tentu seseorang diberi kemudahan dan keistiqamahan untuk hadir di kajian sunnah secara langsung (offline).

Dahsyatnya Tipu Daya Syaitan dan Fitnah Keluarga

Sungguh luar biasa godaan dan tipu daya syaitan dalam mengelabui manusia. Padahal, secara keilmuan, saya sangat tahu bahwasanya menuntut ilmu syar'i secara langsung di majelis memiliki keutamaan yang luar biasa besar.

Namun, syaitan selalu punya cara untuk memunculkan rasa malas atau mencari pembenaran. Hal yang sering terjadi pada saya adalah menjadikan kondisi keluarga sebagai pertimbangan utama untuk tidak hadir secara rutin. Saat ini, saya memiliki anak balita yang usianya belum genap 2 tahun. Anak bungsu ini kebetulan jauh lebih aktif dibandingkan kakaknya, sehingga jauh lebih sulit untuk dikendalikan jika dibawa ke keramaian majelis. Syaitan membisikkan rasa was-was dan dalih, "Nanti malah mengganggu jamaah lain," atau "Lebih aman dan tenang di rumah saja."

Hal ini sejalan dengan firman Allah 'Azza wa Jalla tentang bagaimana syaitan mampu memalingkan manusia, bahkan memalingkan mereka yang sebenarnya sudah tahu atau memiliki pandangan yang tajam:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

"...dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam (berakal terang)."

(QS. Al-Ankabut: 38)

Realita Kajian Online: Minim Fokus dan Kehilangan Ukhuwah

Sadar akan beratnya langkah ini, akhirnya saya sering mengambil strategi alternatif dengan merutinkan mendengarkan kajian secara online melalui YouTube. Strategi ini memang baik sebagai penjaga iman bagi yang memiliki uzur syar'i, dan mengikuti kajian secara online tetaplah bernilai kebaikan dan pahala, karena hal tersebut menggugurkan kewajiban kita dalam menuntut ilmu syar'i. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang masyhur: 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim."

(HR. Ibnu Majah no. 224, shahih)

Jadi, menyimak via gawai tetap terhitung sebagai upaya menunaikan kewajiban tersebut, terutama bagi yang terhalang uzur. Namun, realitanya di lapangan sering kali jauh dari ideal. 

Menyimak kajian online di rumah sangat rentan distraksi. Sering kali saya mendengarkan sambil ditinggal menjemur pakaian, sambil makan, atau sambil nyelimurkan anak yang sedang aktif-aktifnya. Akibatnya, fokus terpecah. Input ilmu yang didapat mungkin hanya tersisa 50% atau bahkan sekadar 10% saja dibandingkan jika menyimak dengan duduk rapi di majelis.

Selain masalah fokus, kelemahan fatal dari kajian online adalah hilangnya sisi Ukhuwah Islamiyah. Meski sudah bertahun-tahun mengenal manhaj salaf, jika hanya mendekam di depan layar, rasanya kita tetap "sendiri". Kita tidak memiliki kesempatan untuk menjalin ukhuwah, mengenal saudara seiman secara langsung, atau memperbanyak sirkel pertemanan yang positif. Tanpa tatap muka di majelis, teman kita hanya akan tetap "itu-itu saja", sehingga semangat dalam beragama pun tidak mendapatkan suntikan energi dari kebersamaan bersama orang-orang shalih lainnya.

Padahal, sebagaimana yang sering disampaikan oleh Ustadz Syafiq Riza Basalamah dalam kajian-kajian beliau, ada fadhilah (keutamaan) besar saat kita bertemu, berkenalan, dan saling bersalaman dengan saudara seiman di majelis ilmu. Pertemuan fisik itu mampu menggugurkan dosa-dosa kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا ‏" 

 

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dan Ibn Numair dari Al-Ajlah, dari Abu Ishaq, dari Al-Bara', ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Tidak ada dua orang Muslim yang bertemu dan saling berjabat tangan, kecuali dosa-dosa mereka diampuni sebelum mereka berpisah."

(HR. Abu Dawud No. 5212, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Ada satu garis bawah yang sangat tebal: Keutamaan majelis offline tidak bisa digantikan oleh layar gawai:

1. Dipermudah Jalannya Menuju Surga dan Naungan Malaikat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ‏" 

"Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang mukmin dari penderitaan dunia, Allah akan meringankan penderitaannya dari penderitaan Hari Kebangkitan. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitab Allah dan saling belajar di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, dan diliputi rahmat, dan dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya. Dan barangsiapa yang lambat dalam beramal, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya."

(HR. Muslim No. 2699)

2. Mendapat Pahala Seperti Haji yang Sempurna

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

"Barangsiapa yang berangkat ke masjid untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti orang yang haji dengan sempurna."

(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih

Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa mengaruniakan kita Hidayah Taufik, melawan kemalasan dari godaan syaitan, memampukan kita dalam memanajemen waktu keluarga, dan memberikan keringanan langkah menuju taman-taman surga di dunia ini.

Catatan:
Artikel ini ditulis sebagai buah dari perenungan dan muhasabah secara pribadi. Ditorehkan bukan dengan maksud menggurui, melainkan sebagai pengingat keras bagi diri sendiri akan mahalnya sebuah Hidayah Taufik. Semoga untaian hikmah ini juga dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar