Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Kekayaan Hakiki: Belajar Syukur dari Kisah Nyata Ammi Abu

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan Juli 08, 2026

Kekayaan Hakiki: Belajar Syukur dari Kisah Ammi Abu

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]

Kisah ini baru beberapa hari yang lalu terjadi saat saya berkunjung ke rumah seorang teman. Sebut saja beliau Ammi Abu. Saat bertamu dan merajut ukhuwah, kami bercengkerama membahas banyak hal panjang lebar. Berawal dari sebuah pertanyaan yang saya lontarkan, entah faktor apa yang memicu, beliau kemudian menyampaikan sebuah penuturan yang cukup mendalam.

Wajah Ammi Abu saat bercerita terlihat lelah dan datar. Ada gurat kepenatan yang memancar, seolah begitu banyak beban yang sedang ia tanggung di pundaknya. Beliau bahkan sempat berucap, jika sedang banyak pikiran, terkadang ia memilih duduk menyendiri di teras rumah sambil meminum kopi, sekadar untuk menetralkan apa yang berkecamuk di kepalanya.

"Orang tua ana ini tipe orang yang tidak pernah bercanda," ungkapnya memulai cerita. "Sejak ana kecil, kalau bicara soal uang, kami tidak pernah kekurangan. Intinya, hal duniawi selalu tercukupi. Sekarang ana sudah dewasa, bekerja dan berkeluarga. Selain itu ada usaha keluarga yang mana ana ini menjadi pengemudi motornya (kepalanya). Saat ini jika terjadi hal yang tidak sesuai ekspektasi di tempat usahanya, maka ana yang akan didorong dan di-push habis-habisan supaya penjualan produknya meningkat."

Beliau melanjutkan, "Kelemahan orang tua ana ini ada di sektor layanan—kurang luwes jika bicara dengan orang—dan minimnya pemahaman agama. Terkadang lupa bahwa Allah 'Azza wa Jalla lah yang sejatinya mengatur rezeki manusia."

Dari percakapan singkat itu, ada ibrah (pelajaran) besar yang bisa diambil: bahwa manusia ini harus selalu bersyukur dengan segala keadaannya.

Bukan maksud saya mengatakan bahwa Ammi Abu tadi tidak bersyukur, namun realita kehidupan kami di masa lalu sungguh bertolak belakang. Jika saya menengok ke belakang, tepatnya saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), jujur saya bukanlah anak orang berada yang apabila meminta ini atau itu selalu langsung dibelikan dan dituruti. Kondisi saya berbeda 180 derajat dengan Ammi Abu.

Untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan—misalnya membeli HP atau sekadar sepeda ontel—saya perlu usaha keras. Salah satu ikhtiar yang saya lakukan saat itu adalah bekerja mengangkut kayu bakar dari kebun ke rumah.

Saya menggunakan sepeda ontel milik orang tua untuk mengangkut kayu-kayu tersebut. Kondisi sepedanya sungguh memprihatinkan; catnya sudah banyak yang pudar hingga terkelupas, memperlihatkan warna besi aslinya. Keamanannya pun seadanya, rem hanya berfungsi di bagian belakang karena tuas dan kabel rem depan sudah tidak ada sama sekali. Rantainya yang sudah sangat tua selalu menemani perjalanan saya dengan bunyi khasnya, kriek... kriek... kriek... setiap kali dikayuh.

Setiap pulang sekolah, kira-kira jam 13.30 siang, saya langsung bersiap. Jarak antara kebun dengan rumah lumayan jauh, sekitar 10 km. Di bawah terik matahari, saya mengayuh sepeda tua itu bolak-balik hingga 10 kali sampai jam 16.30 sore. Demi upah Rp500,- per rit (sekali angkut), saya rela menempuh total perjalanan yang jika diakumulasi bisa mencapai puluhan kilometer setiap harinya.

Mungkin ada yang bertanya, apakah saya tidak merasa iri? Terlebih ketika telinga saya sering mendengar raungan mesin motor Tiger atau Satria milik teman-teman seperti Ammi Abu. Jawabannya adalah tidak. Karena saat itu saya memiliki motivasi dan target yang sangat kuat atas sesuatu yang ingin saya capai, sehingga rasa iri melihat kenikmatan orang lain sama sekali tidak pernah terhiraukan. Pekerjaan kasar dan menguras keringat itu justru saya lakukan dengan sepenuh hati dan riang gembira.

Perbedaannya ada pada proses didikan. Saya selalu diajari untuk bekerja dan berusaha terlebih dahulu sebelum bisa mencapai apa yang saya inginkan.

Namun dari renungan ini, saya menyadari satu hal yang teramat penting: kehidupan seseorang tidak bisa dinilai dari luarnya saja (baik atau tidaknya, bahagia atau tidaknya). Kita perlu melihat dan menyelami jauh lebih ke dalam.

Alhamdulillah, Allah 'Azza wa Jalla memberikan kemudahan bagi saya untuk bisa dekat, bercanda, saling menasihati, dan mengingatkan dalam kebaikan kepada orang tua maupun adik. Kehangatan dan ketenangan di dalam rumah itu adalah kemewahan yang belum tentu dirasakan oleh orang lain, termasuk Ammi Abu tadi, meskipun secara finansial beliau memang jauh lebih mapan.

Kekayaan materi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketenteraman jiwa. Telah dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ sejak 1400 tahun yang lalu bahwa kekayaan yang sesungguhnya itu adalah kekayaan hati:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ"

"Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah merasa cukup dalam jiwa."

(HR. Bukhari no. 6446)

Pengalaman ini juga mengingatkan saya pada anjuran Nabi ﷺ agar kita selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, agar kita tidak meremehkan karunia yang Allah berikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ"

"Dari Abu Huraira, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian melihat kepada orang yang lebih diberi kelebihan dalam hal harta dan fisik, maka hendaklah ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya dalam hal-hal yang mana ia lebih diberi kelebihan."

(HR. Muslim no. 2963)

Kisah ini pun akhirnya saya sampaikan kembali kepada adik dan orang tua saya di rumah sebagai bahan pelajaran. Harapannya, agar dalam keadaan lapang maupun sempit, kita sebagai umat muslim wajib bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla dan terus memperkuat iman. Sebagaimana janji kebaikan bagi seorang mukmin dalam sabda Nabi ﷺ:

عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ"

"Suhaib melaporkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: "Ajaibnya urusan seorang mukmin, sesungguhnya segala urusannya adalah baik dan itu tidak berlaku kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia mendapatkan kesulitan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya."

(HR. Muslim no. 2999)

Catatan Referensi / Sumber Hadits:

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar