Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Pasang Banner E-Book / Poster Di Sini

Hakikat Ibadah dan Bahaya Kezaliman : Jangan Menjadi Orang Bangkrut di Akhirat

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan April 15, 2026

Bismillahirrohmanirrohim.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa istiqamah di atas sunnahnya hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, sebuah anugerah luar biasa kita masih dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan. Ini adalah momentum emas dan kesempatan berharga yang Allah berikan agar kita bisa mengevaluasi diri dan meningkatkan ketakwaan. Namun, dalam perjalanan meningkatkan ibadah di bulan yang mulia ini, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan: menjaga hak sesama manusia.

Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Ustadz Kusdiawan dalam Khutbah Jumat (2 Ramadhan 1447 H), manusia sejatinya sangat lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Bukan hanya untuk sanggup mendirikan shalat atau berpuasa, tetapi juga untuk sanggup menahan lisan dan perbuatan dari menzalimi orang lain. Berikut adalah ringkasan nasihat dari khutbah tersebut yang sangat penting untuk kita renungkan bersama.

Ringkasan Nasihat Khutbah: Bahaya Menzalimi Sesama

1. Keutamaan Bulan Ramadhan dan Meminta Pertolongan Allah

Bersyukurlah kita masih dipertemukan oleh Allah di bulan Ramadhan. Ini adalah anugerah yang luar biasa dan sebuah kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sungguh-sungguh melaksanakan segala perintah-Nya. Manusia ini sejatinya lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah dalam beribadah.

2. Larangan Berbuat Zalim (Hadits Qudsi)

Ibadah kepada Allah harus sejalan dengan perbuatan baik kepada sesama. Allah Ta'ala sangat melarang hamba-Nya berbuat zalim. Dalam Hadits Qudsi (Arbain An-Nawawi ke-24), Allah ﷻ berfirman:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi." (HR. Muslim no. 2577)

3. Makna Ibadah Menurut Generasi Terdahulu

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah memberikan peringatan tegas bahwa ibadah tidak sebatas gerakan ritual. Beliau menukil prinsip generasi salaf:

"Kami mendapati generasi salaf (orang-orang terdahulu/para sahabat), mereka tidak hanya menilai ibadah itu terletak pada puasa dan shalat semata. Akan tetapi, (mereka memandang ibadah itu juga adalah) menahan lisan dari mencela kehormatan orang lain. Sebab, orang yang mendirikan shalat malam dan berpuasa di siang hari, jika ia tidak menjaga lisannya, maka ia akan bangkrut pada hari kiamat." (Kitab At-Tamhid karya Imam Ibnu Abdil Barr, 17/443)

4. Hakikat Orang yang Bangkrut (Muflis) di Akhirat

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ tentang orang yang bangkrut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا...

"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang membawa dosa karena pernah mencela orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka pahala kebaikannya akan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya tersebut. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum utang kezalimannya terbayar, maka dosa-dosa mereka (yang dizalimi) akan diambil dan dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim no. 2581)

5. Selesaikan Urusan Kezaliman di Dunia

Memiliki urusan di dunia dengan orang lain (kezaliman atau hak yang dirampas) namun sampai meninggal tidak pernah diselesaikan, akan berakibat fatal. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ...

"Barangsiapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta halal (maaf) darinya hari ini, sebelum datang hari di mana dinar dan dirham tidak berlaku lagi..." (HR. Bukhari no. 6534)

6. Doa Memohon Kemudahan Beribadah

Agar lisan kita terjaga dan ibadah kita senantiasa dibimbing oleh Allah, rutinkan doa yang diwasiatkan oleh Rasulullah ﷺ kepada Mu'adz bin Jabal untuk dibaca di akhir shalat (sebelum salam):

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu." (HR. Abu Dawud no. 1522, dinilai Shahih oleh Al-Albani)

Refleksi Pribadi: Praktik Menjaga Lisan di Lingkungan Kerja

Menjaga lisan memang tidak semudah membalik telapak tangan atau sekadar memahami teori. Terutama dalam dinamika lingkungan kerja sehari-hari yang mempertemukan banyak orang dengan beragam karakter. Dalam Islam, bercanda tentu saja diperbolehkan, asalkan tidak sampai menyakiti hati dan tidak mengandung dusta. Banyak di antara kita yang niat awalnya bercanda sekadar sebagai tanda keakraban, namun tak jarang candaan itu menjadi tidak terkontrol. Apa yang bagi sebagian orang dianggap biasa, ternyata bisa sangat melukai perasaan orang lain.

Saya teringat sebuah kisah nyata yang pernah saya alami sendiri. Ada seorang rekan kerja—yang sebenarnya sudah bekerja lebih dari satu tahun—hendak mengadakan kegiatan di sebuah ruang rapat, sebut saja Ruang Nararya Kirana. Suatu ketika, dia bertanya kepada teman lain mengenai ruangan tersebut.

Teman yang ditanya kemudian merespons dengan niat bercanda, "Mosok we setahun sek ndak wero ae jeneng e ruangan iku?" (Masa sudah setahun masih tidak tahu saja nama ruangan itu?).

 

Di luar dugaan, rekan tersebut sontak merasa terpojok. Dengan nada tinggi dan sikap membela diri seakan itu benar, ia langsung menjawab, "Aku ndak tau nggawe acara disitu yo!" (Aku tidak pernah bikin acara di situ ya!).

Padahal, saya ingat betul bahwa dia pernah mengadakan kegiatan di ruangan yang sama pada tahun sebelumnya. Namun, agar ia tidak semakin malu dan merasa dipojokkan di depan rekan-rekan yang lain, saya memilih diam seakan membenarkan apa yang dia katakan.

Seringkali hal seperti ini terjadi; ketika seseorang awalnya berniat mengajak bercanda, justru saat mendapat reaksi penolakan (dibercandai balik), ia seakan menegaskan, "jangan mengajak bercanda saya". Pengalaman ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi saya secara pribadi. Lisan sungguh tak bertulang. Ucapan yang keluar seringkali tidak terkontrol, termasuk bagi diri saya sendiri.

Penutup

Kajian ini menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa ibadah ritual kepada Allah ﷻ harus dibarengi dengan akhlak yang mulia kepada sesama. Jangan sampai rasa lelah kita menahan lapar dan dahaga puasa di siang hari, serta letihnya berdiri shalat malam, habis tak bersisa. Bahkan lebih tragis lagi, membuat kita bangkrut (muflis) dan terlempar ke neraka hanya karena gagal menahan lisan dari menzalimi orang lain.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mengampuni kesalahan-kesalahan saya, menghindarkan saya dari sifat merasa paling benar dan menyalahkan orang lain. Mari senantiasa memohon pertolongan Allah agar lisan dan perbuatan kita selalu dijaga, serta segerakanlah meminta maaf jika ada hak orang lain yang terlanggar selagi masih ada kesempatan di dunia.

Wallahu a'lam bish-shawab.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar