Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Pasang Banner E-Book / Poster Di Sini

Renungan Jumat: Ujian Kesendirian di Jalan Sunnah dan Upaya Membangun Ukhuwah

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan April 08, 2026

Renungan Jumat: Menemukan 'Circle' Ukhuwah dan Ujian Kesendirian di Jalan Sunnah

Pemandangan Hangat di Shaf Terdepan

Suatu hari ketika melaksanakan shalat Jumat, Allah menakdirkan saya berada di shaf kedua dari depan. Alhamdulillah. Seiring berjalannya waktu menunggu khatib naik ke mimbar, perhatian saya terkesima oleh kelakuan bapak-bapak dan kakek-kakek (perkiraan usia sudah 60 tahunan) yang berada di shaf pertama dan sebagian di shaf kedua, persis berdampingan dengan saya.

Mereka tampak begitu ceria, seakan mengenal semua jamaah yang seusia mereka. Mereka saling tersenyum, bersalaman, dan mengobrol santai. Mereka seakan telah menemukan circle yang sama sehingga pembahasannya terasa sangat hangat, terpancar jelas dari raut senyum di wajah mereka.

Melihat kejadian itu, ingatan saya melayang pada sebuah cuplikan video tentang seorang Ustadz yang bertemu dengan jamaahnya saat ibadah umrah. Jamaah tersebut juga seorang kakek berusia sekitar 60 tahunan. Sambil menahan haru, kakek itu berkata kepada sang Ustadz dalam bahasa Jawa, "Nek aku ora onok ndek surgo, mengko golek ono aku yo, Ustadz" (Kalau aku tidak ada di surga, nanti tolong cari aku ya, Ustadz). Kisah itu diunggah sebagai kenangan karena sang kakek telah berpulang lebih dulu menuju kehidupan abadi.

 

Kecanggungan Mengungkapkan Cinta Karena Allah

Kejadian-kejadian tersebut mengingatkan saya pada anjuran sunnah dari Rasulullah ﷺ yang sangat agung. Jika kita mencintai saudara kita karena Allah, maka sampaikanlah kepadanya.

إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

"Jika seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya." (HR. Abu Dawud No. 5124, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Saya juga teringat akan luar biasanya ukhuwah para sahabat. Ketika sahabat Sa'ad bin Ar-Rabi' (Anshar) dipersaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf (Muhajirin), Sa'ad bahkan menawarkan separuh harta dan salah satu istrinya (setelah dicerai dan habis masa iddahnya) kepada saudaranya tersebut (HR. Bukhari No. 3780).

قَالَ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ لَمَّا قَدِمُوا الْمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَسَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ، قَالَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي أَكْثَرُ الْأَنْصَارِ مَالًا فَأَقْسِمُ مَالِي نِصْفَيْنِ، وَلِي امْرَأَتَانِ، فَانْظُرْ أَعْجَبَهُمَا إِلَيْكَ فَسَمِّهَا لِي أُطَلِّقَهَا، فَإِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُهَا فَتَزَوَّجْهَا. قَالَ بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، أَيْنَ سُوقُكُمْ

Tentu saja, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus dan mendoakan keberkahan untuk saudaranya, namun peristiwa itu adalah bukti nyata puncak persaudaraan seiman. Namun, mengingat semua itu justru menjadi pukulan telak bagi saya. Sejak saya mengenal dakwah sunnah ini, saya belum pernah menyampaikan kalimat tersebut kepada orang yang saya kenal, bahkan kepada mereka yang sudah se-frekuensi. Padahal sebenarnya, saya memiliki adik kandung yang mulai memiliki pemahaman yang sama. Ada paman dan seorang teman SMP yang kini menjadi tetangga, yang juga berada di pemahaman yang sama.

Namun, mulut ini terasa kaku. Terkadang, saya merasa seakan masih berdiri sendiri tanpa memiliki circle yang sepemahaman. Ada kesedihan dan rasa inferior, terlebih saat bertemu seorang Ustadz, saya sangat tahu diri bahwa ilmu saya belumlah seberapa.

Membangun Ukhuwah dari Langkah-langkah Ringan

Di tengah rasa sedih itu, saya mencoba merenung. Bukankah sunnah itu bisa dibangun dari hal-hal kecil? Alhamdulillah, seiring waktu, ada beberapa sunnah ringan yang mulai saya rutinkan:

  • 1. Kepada teman SMP: Setiap kali bertemu, kami selalu mengusahakan mengucapkan salam dan bersalaman.

    مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

    "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah." (HR. Abu Dawud No. 5212)

  • 2. Kepada adik kandung: Karena saudara sekandung, saya mulai membiasakan memeluk dan mencium pipi kanan-kiri (mu'anaqah) layaknya kehangatan para asatidz jika bertemu saudaranya.
  • 3. Kepada paman yang introvert: Cukup dengan tersenyum dan mengucapkan salam.

    تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

    "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR. Tirmidzi No. 1956)

  • 4. Kepada kedua orang tua: Ini adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Meskipun terkadang pemahaman agama belum sepenuhnya sejalan, berbakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah adab yang utama. Saya selalu mengusahakan bersalaman dan mencium tangan mereka layaknya seorang anak.

Ujian Keasingan: Ketika Salam Tak Berbalas

Namun, perjalanan mengamalkan sunnah tidaklah selalu mulus. Saat saya berusaha ramah, saya justru kadang dihadapkan pada kekecewaan dari orang-orang yang penampilannya sudah "nyunnah". Ketika ada orang lain mengucapkan salam, mereka justru enggan menjawabnya. Muncul prasangka di hati saya untuk tidak lagi mengucapkan salam kepada mereka.

Namun, hari ini saya tersadar. Jika saya berhenti karena perilaku buruk mereka, bukankah itu berarti sikap buruk mereka telah berhasil mematikan sunnah di dalam diri saya? Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

"Engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal." (HR. Bukhari No. 12)

Dakwah Salaf itu luas, merangkul, dan membawa kedamaian. Jika ada kesan kaku, itu adalah kesalahan oknumnya, bukan manhaj-nya. Mungkin saat ini saya merasa asing (ghuraba). Tapi saya sadar, kehangatan kakek-kakek tadi adalah hasil dari benih rutinitas puluhan tahun. Biarlah saat ini saya mulai menanam benihnya. Tetap ramah, tetap menebar salam, dan tidak membiarkan kekakuan orang lain mendikte kebaikan di hati ini. Semoga kelak, Allah pertemukan kita semua di dalam surga-Nya bersama orang-orang yang kita cintai karena-Nya.

Catatan Penulis:

Sebuah refleksi pribadi untuk menguatkan hati yang sedang berusaha istiqamah di atas sunnah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar