15 Faedah Terkait Bulan Zulqa'dah

Oleh: Abu Hazwan [ Islam Kedamaian ]
Faedah Pertama: Bulan Zulqa'dah adalah bulan kesebelas di antara bulan-bulan penanggalan hijriah.
Dinamakan demikian sebab masyarakat (Arab) dahulu yaq’udūn (duduk/menahan diri) dari pertempuran, penyerangan, dan peperangan sebab ia merupakan salah satu bulan haram dan mereka bersiap-siap di bulan tersebut untuk melaksanakan haji.
Faedah Kedua: Bulan Zulqa'dah merupakan salah satu dari empat bulan haram.
Tiga bulan haram terletak berturut-turut yaitu Zulqa'dah (bulan haram pertama), Zulhijah, dan Muharam, kemudian yang terpisah bulan Rajab, sebagaimana firman Allah,
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (Q.S. al-Taubah: 36)
Dalam hadis disebutkan,
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وَذُو الحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى، وَشَعْبَانَ
Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Zulqa'dah, Zulhijah dan Muharam, serta (yang terpisah) bulan Rajab yang diagungkan oleh Bani Muḍar yaitu antara Jumadilakhir dan Syakban.”
Faedah Ketiga: Bulan-bulan haram ini yang salah satunya adalah Zulqa'dah adalah bulan yang agung di sisi Allah subhanahu wata'ala, haram di dalamnya perbuatan zalim kepada diri sendiri yaitu dengan melakukan kemaksiatan dan melanggar larangan-larangan Allah.
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
Artinya: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di dalamnya” (Q.S. al-Taubah: 36)
Yakni, jangan menzalimi diri kalian sendiri di dalam bulan-bulan haram tersebut sebab hal tersebut lebih besar dosanya dari perbuatan dosa di bulan lain. Kezaliman dan dosa, meskipun seluruhnya terlarang termasuk di bulan-bulan lain, namun ia lebih diharamkan lagi di dalam bulan-bulan haram disebabkan keagungan dan kehormatannya di sisi Allah subhanahu wata'ala.
Qatadah raḥimahullāh berkata, “Sesungguhnya kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman di selainnya, meskipun kezaliman dalam keadaan apapun adalah sesuatu yang besar, akan tetapi Allah subhanahu wata'ala mengagungkan perkara sesuai kehendak-Nya.”
Faedah Keempat: Orang-orang Arab jahiliah menghormati negeri dan bulan-bulan haram dengan penghormatan yang tinggi.
Di antara bentuk penghormatan mereka adalah mereka tidak menakut-nakuti orang lain, tidak menuntut darah atau pembalasan dendam hingga seseorang di bulan-bulan haram atau di al-bait al-harām (wilayah haram Makkah), melihat orang yang telah membunuh ayah, anak, atau saudaranya tetapi ia tidak membalas dendam kepadanya, tidak pula mengganggu atau menyentuhnya.
Faedah Kelima: Seorang muslim wajib memuliakan bulan-bulan haram.
Caranya adalah dengan menghormati larangan-larangan Allah subhanahu wata'ala di dalamnya, menegakkan hal-hal fardu, melaksanakan hal-hal wajib, bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan ibadah dengan cara yang Dia ridai, menjauhi perbuatan zalim terhadap diri sendiri dengan menerobos larangan-larangan Allah subhanahu wata'ala, menerjang hal-hal yang Dia murkai, dan melampaui batasan-batasan-Nya, secara khusus di bulan-bulan haram tersebut dan secara umum di seluruh bulan.
Faedah Keenam: Bulan Zulqa'dah adalah salah satu bulan haji
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَـٰت
Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui” (Q.S. al-Baqarah: 197)
Ibn ‘Umar raḍiyallahu ‘anhuma berkata, “Bulan-bulan haji adalah Syawal, Zulqa'dah, dan sepuluh hari Zulhijah.”
Faedah Ketujuh: Dianjurkan umrah di Bulan Zulqa'dah dalam rangka meneladani Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam berumrah empat kali dan seluruhnya beliau laksanakan di Bulan Zulqa'dah, beliau setelah hijrah tidak pernah berumrah di selain Bulan Zulqa'dah, yakni:
- Umrah dari al-Ḥudaibiyyah atau masa al-Ḥudaibiyyah di Bulan Zulqa'dah tahun 6 H.
- Umrah pada tahun berikutnya di Bulan Zulqa'dah tahun 7 H (umrah qada).
- Umrah dari Ji’ranah tempat beliau membagi ganimah Perang Hunain di Bulan Zulqa'dah tahun 8 H (tahun Fath Makkah).
- Umrah dengan haji beliau shalallahu 'alaihi wasallam dan beliau telah berihram pada Zulhijah tahun 10 H sedangkan amal-amalan hajinya pada Bulan Zulhijah sebab Nabi shalallahu alaihi wasallam berhaji dengan haji qiran.
Faedah Kedelapan: Umrah pada Bulan Zulqa'dah lebih afdal dari umrah pada bulan lainnya selain pada Bulan Ramadan.
Umrah di Bulan Ramadan paling besar pahalanya sebab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
«عُمْرَةً في رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أوْ حَجَّةً مَعِي»
Artinya: “Umrah di Bulan Ramadan seperti sebuah haji atau haji bersamaku.”
Diriwayatkan dari sejumlah salaf bahwa mereka mengutamakan umrah di Bulan Zulqa'dah dan Syawal dibanding Ramadan, di antaranya ‘Umar dan ‘A’isyah raḍiyallahu’anhuma dan ‘Aṭa’ rahimahullah.
Ibnu al-Qayyim bimbang di antara dua pendapat tersebut dan berkata, “Sesungguhnya Allah tidak mungkin memilih untuk Nabi-Nya ṣallallāhu ‘alaihi wasallam dalam umrahnya kecuali waktu-waktu yang paling mulia dan yang paling layak. Umrah di bulan-bulan haji adalah sama dengan pelaksanaan haji di bulan-bulan haji. Bulan-bulan tersebut telah dikhususkan oleh Allah dengan ibadah ini (haji), menjadikannya sebagai waktunya, sedang umrah adalah haji kecil, maka waktu yang paling tepat untuk umrah adalah bulan-bulan haji, dan Zulqa'dah adalah pertengahannya.”
Oleh karena itu, bagaimana pun, dianjurkan umrah pada Bulan Zulqa'dah.
Faedah Kesembilan: Dianjurkan berpuasa pada Bulan Zulqa'dah tanpa meyakini pengkhususan hari-hari tertentu di dalamnya dengan fadilah tambahan.
Sebab, ia termasuk salah satu bulan haram dan bulan-bulan haram dianjurkan berpuasa di dalamnya. Diriwayatkan dalam sebuah hadis,
«صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ»
Artinya: “Berpuasalah pada sebagian hari di bulan haram dan tinggalkanlah (pada sebagian hari)”
Puasa pada bulan haram telah diriwayatkan dari sebagian salaf, di antaranya Ibn ‘Umar raḍiyallahu ’anhuma, al-Ḥasan al-Baṣri, Sufyan al-Sauri, dan hal ini adalah pendapat jumhur fukaha.
Faedah Kesepuluh: Terjadi banyak peristiwa besar di Bulan Zulqa'dah, di antaranya Allah membuat janji dengan Nabi Musa.
Hal ini sebagaimana firman-Nya,
وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَـٰثِينَ لَيْلَةًۭ وَأَتْمَمْنَـٰهَا بِعَشْرٍۢ فَتَمَّ مِيقَـٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi).” (Q.S. al-A’raf: 142)
Kebanyakan mufasir berpendapat bahwa tiga puluh hari yang dimaksud adalah Bulan Zulqa'dah, sedang sepuluh hari berikutnya adalah sepuluh hari Zulhijah. Hal ini sebagaimana penuturan Mujahid, Masruq, Ibnu Juraij, serta diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas. Dengan demikian sempurnalah perhitungan (40 hari) pada hari kurban. Pada saat itulah Allah berbicara dengan Nabi Musa.
Faedah Kesebelas: Perang Badar yang disepakati (Perang Badar Ṣugra) pada tahun 4 H di Bulan Zulqa'dah.
Saat itu Abu Sufyan menjanjikan kepada kaum muslimin setelah Perang Uḥud untuk berperang lagi setahun setelah itu. Akan tetapi ia tidak datang sebagaimana janji tersebut.
Faedah Kedua Belas: Rasulullah menikahi sepupunya (anak dari saudari bapaknya) Zainab binti Jaḥsy raḍiyallahu ’anha pada tahun 4 H Bulan Zulqa'dah.
Pada saat itulah turun ayat tentang hijab.
Faedah Ketiga Belas: Perang Khandaq (Aḥzab) terjadi pada tahun 5 H di Bulan Zulqa'dah.
Adapula yang menyebutnya terjadi pada Bulan Syawal.
Faedah Keempat Belas: Perang Bani Quraiẓah pada tahun 5 H di Bulan Zulqa'dah.
Adapula yang berpendapat Bulan Syawal.
Faedah Kelima Belas: Perjanjian Ḥudaibiyyah pada tahun 6 H di Bulan Zulqa'dah.
Allah telah menyebut sebagai perjanjian ini dengan fatḥ mubin (kemenangan yang nyata). Hal ini sebagaimana perkataan dari Anas raḍiyallahu ’anhu berkenaan dengan firman Allah,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًۭا مُّبِينًۭا
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (Q.S. al-Fatḥ: 1)
Beliau berkata, “al-Ḥudaibiyyah” dan itu adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir.
Kita bermohon kepada Allah ta’ala agar memberikan taufik kepada kita semua dalam memanfaatkan bulan dan seluruh bulan yang ada dalam ketaatan kepada-Nya.
Semoga bermanfaat..
[Ringkasan kajian rutin setiap hari Ahad ba'da subuh di masjid Al-Furqon Lumajang. Materi ini ditulis dan disampaikan oleh Ustadz Kusdiawan Hafizahullah]
Diskusi & Komentar