Pondasi Aqidah: Rahmat Allah dan Rahasia Takdir

Dalam menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian ini, memiliki keyakinan yang kokoh terhadap takdir (Qada dan Qadar) adalah sebuah keharusan bagi seorang Muslim. Kajian yang disampaikan oleh Ustadz Sufyan Baswedan di Masjid Abu Bakar menyajikan pandangan yang sangat mendalam terkait hal ini, berlandaskan pemahaman para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum.
Salah satu poin krusial yang sering kita lupakan adalah kenyataan bahwa manusia masuk surga karena rahmat Allah, bukan semata-mata karena amal ibadahnya. Rahmat Allah jauh lebih bernilai dan bermanfaat daripada amal hamba yang penuh dengan kekurangan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ " لَنْ يُنْجِيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ " . قَالَ رَجُلٌ وَلاَ إِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ " وَلاَ إِيَّاىَ إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ وَلَكِنْ سَدِّدُوا " . وَحَدَّثَنِيهِ يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّدَفِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو، بْنُ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الأَشَجِّ، بِهَذَا الإِسْنَادِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ " بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ " . وَلَمْ يَذْكُرْ " وَلَكِنْ سَدِّدُوا "
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Amal seseorang tidak akan menyelamatkan dirinya (dari neraka)." Seorang sahabat bertanya, "Apakah engkau juga begitu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku pun tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Oleh karena itu, beramallah kalian dengan benar (tepat sasaran)."
(HR. Muslim No. 2816)
Emas Sebesar Gunung Uhud Tidak Berarti Tanpa Iman Kepada Takdir
Betapa berbahayanya jika seseorang beramal shalih namun hatinya menolak ketetapan Allah. Terdapat sebuah riwayat kuat yang bersumber dari para sahabat senior seperti Ubay bin Ka'ab, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit. Mereka menegaskan sebuah prinsip:
"Seandainya engkau berinfak emas sebesar Gunung Uhud di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya darimu hingga engkau beriman kepada takdir."
Segala sesuatu yang ditakdirkan menimpamu, tidak akan pernah meleset darimu. Segala sesuatu yang ditakdirkan meleset darimu, tidak akan pernah menimpamu. Apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan tidak percaya terhadap takdir yang Allah gariskan, maka ancamannya sangat berat, yakni api neraka.
Sejarah Kelam Paham Qadariyah
Pemahaman yang menolak takdir pertama kali dipopulerkan oleh Ma'bad al-Juhani di Basrah, Irak. Hal ini memicu keresahan, hingga seorang Tabi'in bernama Yahya bin Ya'mar berangkat haji dan bertanya langsung kepada Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) radhiyallahu 'anhuma.
Mendengar munculnya kelompok yang mengingkari takdir, Ibnu Umar dengan tegas berlepas diri dari mereka. Ini menjadi bukti bahwa beragama haruslah mengikuti pemahaman para sahabat (Salafush Shalih), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 115 dan At-Taubah ayat 100.
Intisari Hikmah & Pesan Para Ulama
Jadikan sahabat Abu Bakar dan Umar sebagai pedoman utama setelah Rasulullah ﷺ, karena dari sikap keduanyalah Allah ﷻ sering menurunkan ayat Al-Qur'an sebagai pembenar. Hiduplah dengan tenang, karena rezeki dan ajalmu telah tertulis rapi, takkan tertukar.
Dalam kesempatan lain, juga disampaikan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah bahwa umat Islam harus berpegang teguh kepada kebenaran yang datang dari Allah Ta'ala, Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya, serta meneladani Abu Bakar dan Umar yang merupakan simbol pemimpin para sahabat. Hal ini sejalan dengan hadits lain di mana Rasulullah ﷺ secara tegas memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]
Diskusi & Komentar