Islam Kedamaian | Abu Hazwan

Islam Kedamaian Abu Hazwan

Pasang Banner E-Book / Poster Di Sini

Titik Balik Hidayah & Keutamaan Doa I'tidal (30+ Malaikat Berebut Mencatatnya)

Ditulis Oleh Abu Hazwan l Islam Kedamaian
Diterbitkan Mei 06, 2026


Sebelum mengenal dakwah Sunnah dan belajar Islam sesuai pemahaman Salafus Shalih, saya membaca doa I'tidal yang sangat umum. Saya bukanlah lulusan pondok pesantren yang menguasai bahasa Arab. Namun kenyataannya, latar belakang pendidikan pun kadang belum menjadi jaminan seseorang bisa membedakan mana amalan yang benar-benar ada tuntunannya (Sunnah) dan mana yang tidak.

Dulu, saya berislam seperti kebanyakan orang pada umumnya. Tidak tahu-menahu soal doa-doa pilihan yang istimewa. Saya baru mengetahuinya setelah Allah 'Azza wa Jalla memberikan hidayah untuk mengenal Islam di atas Sunnah. Alhamdulillah, sejak dulu saya tidak pernah memiliki pikiran negatif atau memandang aneh perempuan yang memakai kerudung besar atau bercadar (yang sering dicap "ninja" oleh masyarakat awam). Saya meyakini bahwa Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin.

Titik Balik Hidayah: Biaya Kematian yang Memberatkan

Perjalanan hidayah saya bermula dari sebuah kegelisahan yang tergelitik oleh realita sosial. Saya sering mendengar selentingan di masyarakat: "Kasihan kalau meninggal tidak punya warisan, anak cucunya akan repot memikirkan biaya selamatan (tahlilan)." Bayangkan saja, untuk rentetan acara hingga tujuh harian, biayanya bisa mencapai angka 20 juta rupiah bagi sebagian orang.

Dari situ, muncul sebuah pemikiran kritis di benak saya: Lalu, apa bedanya Islam dengan agama lain? Bukankah di agama Hindu (misalnya saudara kita di Bali), untuk menggelar upacara kematian seperti Ngaben juga membutuhkan biaya puluhan juta rupiah? Jika Islam memberatkan umatnya yang sedang berduka, di mana letak kemudahan syariat agama ini?

Berangkat dari rasa penasaran itulah, saya mulai mencari kebenaran tentang ajaran Islam yang murni. Pencarian ini menuntun saya untuk sedikit demi sedikit mempelajari Islam hingga sampai pada titik menemukan doa-doa pilihan, khususnya bacaan di dalam shalat yang benar-benar dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Salah satunya adalah doa I'tidal ini yang memiliki keutamaan luar biasa.

Doa I'tidal

Apa yang sering disampaikan oleh para asatidz kita, seperti Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah, merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai. Meskipun di dalam kitab Shahih Bukhari lafadznya berhenti di kalimat "mubarakan fihi", namun di dalam kitab Sunan lainnya terdapat tambahan "mubarakan 'alaihi..." yang merupakan versi lebih lengkap.

Doa ini dibaca setelah imam atau kita sendiri mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" ketika bangkit dari ruku':

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Latin:
Rabbana walakal hamdu, hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, mubarakan 'alaihi kama yuhibbu Rabbuna wa yardha.

Artinya:
"Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik, yang penuh dengan berkah di dalamnya, dan penuh berkah di atasnya, sebagaimana yang dicintai dan diridhoi oleh Rabb kami."

Status Hadits & Kisah 30 Malaikat Berebut Mencatatnya

Hadits ini berderajat shahih/hasan. Kisahnya sama persis dengan yang diriwayatkan dalam riwayat Imam Bukhari, namun dengan lafadz periwayatan doa yang lebih detail.

Dari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan:

"Aku shalat di belakang Rasulullah ﷺ, lalu aku bersin (dan setelah ruku') aku mengucapkan: 'Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan 'alaihi kama yuhibbu rabbuna wa yardha'."

Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya: "Siapa yang berbicara tadi?"

Rifa'ah menjawab: "Saya, wahai Rasulullah."

Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku melihat 30 lebih malaikat saling berebut siapa di antara mereka yang pertama kali mencatat (pahalanya)."

(HR. Abu Dawud no. 773, Tirmidzi no. 404, An-Nasai no. 1062)

Kesimpulan

Doa i'tidal ini sangat dianjurkan untuk dihafal dan diamalkan dalam shalat kita. Kita diperbolehkan membaca versi pendek (sampai fihi) atau versi panjang (sampai yardha) seperti yang diajarkan dalam riwayat di atas.

Keduanya sama-sama memiliki keutamaan luar biasa yang membuat para malaikat sibuk berebut untuk mencatat pahalanya karena saking agungnya pujian tersebut kepada Allah ﷻ. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk terus istiqamah di atas Sunnah Rasul-Nya.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ , telah rilis Paket E-Book Dzikir Pagi & Petang + Ceklis Hafalan dengan tata letak yang nyaman dibaca di layar HP.
[Lihat Detail & Cara Pemesanan]

Bagikan:
Tentang Penulis

Semoga tulisan ini menjadi jalan kebaikan, ilmu yang bermanfaat, serta amal jariyah bagi penulis dan pembaca. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi & Komentar